Rabu, 20 Juni 2018

Alkhairaat selalu di hati


Guru tua begitulah beliau disapa, beliau adalah ulama besar dari hadramaut yang hijrah ke indonesia, sepanjang hidupnya beliau dikenal sosok yang sangat mencintai ilmu bukan hanya untuk dirinya tapi beliau berikhtiyar untuk menyebarkan kepada yang lain. Sebagai wujud kecintaan beliau terhadap ilmu maka didirikanlah lembaga pendidikan islam alkhairaat di sulawesi tengah, kota palu. tepatnya kala usia beliau menginjak 41 tahun dan ketika beliau wafat di usia 77 tahun lembaga pendidikan alkhairaat telah menyebar di kawasan timur indonesia. inilah bukti sumbangsih nyata dan warisan besar beliau terhadap pendidikan islam di bumi Indonesia, semua itu karna ikhtiyar beliau yang penuh dengan keikhlasan. Guru tua dan alkhairaat ibarat dua sisi mata uang yang memiliki nilai yang sama, sampai beliau pernah berjanji ‘’ aku tidak akan melangkahkan sejengkal kakiq ke surga sehingga abnaul khairat ikut Bersama-sama denganku ” kata salah satu cucunya Habib alwi aljufri.


Siang itu salah satu sahabat saya alwia alatas ( guru alkhairaat ) bercerita tentang kondisi Madrasah Diniyah Awwaliyah  (MDA) Alkhairaat di falajawa 2 yg semakin sepi,  bahkan realitasnya bukan hanya sekolah alkhairaat di falajawa 2 tapi hampir  seluruh sekolah2 alkhairaat di wilayah maluku utara terasa semakin sepi, kebanyakan dari muridnya memilih pindah ke sekolah yang fasilitasnya dianggap lebih menunjang dengan metode pengajaran yang cukup modern ( pelajaran umum ) sementara alkhairaat khususnya MDA masih mempertahankan mata pelajaran yang 100 persen merupakan mata pelajaran agama. Padahal memperkenalkan anak pada ajaran agama adalah bekal dan fondasi moral yang kokoh sebab secara teori di usia dini anak memiliki  memori yang begitu kuat dan tajam sehingga apapun yang dilihat, didengar, bahkan diajarkan akan selalu membekas dan menjadi konsep diri saat dia dewasa nanti. Oleh sebab itu tujuan guru tua dalam mengembangkan Pendidikan islam alkhairaat  melalui MDA alkhairaat yang berkonsentrasi pada Pendidikan agama anak sebenarnya bertujuan membangun pola piker moral keagamaan pada anak.


Setelah merenungi curahan hati sahabat saya ALWIA ALATAS bahwa  prinsip utama hidupnya mengabdikan diri untuk alkhairat berapapun gaji yang dia dapatkan tidak menghambat semangatnya untuk mengajar  sebab tujuaanya hanya untuk mencari keberkahan hidup  Disinilah letak kebanggaan dan kekaguman saya terhadapnya sosok ustadza yg begitu ikhlas. Hari-harinya selalu risau terhadap urusan Pendidikan keagamaan anak2 di kota ternate, ( topik utama yg dibahas  setiap kali ketemu ) dan dari dia saya mendapat sedikit pencerahan bahwa problem utama  sepinya Pendidikan di MDA alkhairaat adalah hilangnya kesadaran pada diri orang tua terhadap Pendidikan agama, terjadinya pergeseran nilai Pendidikan di tengah kehidupan modern, orang tua masa kini cenderung melihat dari sisi fisik atau lahiriah  dalam orientasi mencari ilmu, orang tua masa kini sudah terkontaminasi terhadap pola pikir hedonis yang cenderung mengukur pada sisi materi (seorang anak dianggap sukses jika punya jabatan penting, sukses punya duit banyak, sukses punya popularitas bak selebriti, model, dll )  sehingga mereka melupakan kualitas dari keberkahan ilmu yang diburu malah formalitas dan identitas bukan lagi kualitas keihklasan seorang guru padahal ada hubungan yang begitu kuat antara keikhlasan guru dalam mendidik  dan keberkahan pada murid2nya  ‘’ murid ilmunya berkualitas serta berkah karna guru yang ikhlas. Jangan lupa alkhairaat adalah bagian dari jiwa HABIB IDRUS BIN SALIM ALJUFRI yang diwariskan  melalui guru-gurunya yang tulus dan ikhlas. Bagi saya guru-guru alkhairaat adalah sebenar-benarnya pahlawan tanpa tanda jasa dan keberkahan hanya dapat diperoleh lewat tangan-tangan pahlawan tersebut.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selektif dalam berteman

Sosok orang yang tidak berbudi akan selalu mendapat kawan yang tidak berbudi pula, sosok orang munafik akan selalu mencintai bahkan memuji...