Guru tua begitulah beliau disapa, beliau adalah
ulama besar dari hadramaut yang hijrah ke indonesia, sepanjang hidupnya beliau
dikenal sosok yang sangat mencintai ilmu bukan hanya untuk dirinya tapi beliau berikhtiyar
untuk menyebarkan kepada yang lain. Sebagai wujud kecintaan beliau terhadap
ilmu maka didirikanlah lembaga pendidikan islam alkhairaat di sulawesi tengah,
kota palu. tepatnya kala usia beliau menginjak 41 tahun dan ketika beliau wafat
di usia 77 tahun lembaga pendidikan alkhairaat telah menyebar di kawasan timur
indonesia. inilah bukti sumbangsih nyata dan warisan besar beliau terhadap
pendidikan islam di bumi Indonesia, semua itu karna ikhtiyar beliau yang penuh dengan
keikhlasan. Guru tua dan alkhairaat ibarat dua sisi mata uang yang memiliki
nilai yang sama, sampai beliau pernah berjanji ‘’ aku tidak akan melangkahkan sejengkal
kakiq ke surga sehingga abnaul khairat ikut Bersama-sama denganku ” kata salah
satu cucunya Habib alwi aljufri.
Siang itu salah satu sahabat saya alwia alatas
( guru alkhairaat ) bercerita tentang kondisi Madrasah Diniyah Awwaliyah (MDA) Alkhairaat di falajawa 2 yg semakin sepi,
bahkan realitasnya bukan hanya sekolah
alkhairaat di falajawa 2 tapi hampir seluruh sekolah2 alkhairaat di wilayah maluku
utara terasa semakin sepi, kebanyakan dari muridnya memilih pindah ke sekolah
yang fasilitasnya dianggap lebih menunjang dengan metode pengajaran yang cukup
modern ( pelajaran umum ) sementara alkhairaat khususnya MDA masih
mempertahankan mata pelajaran yang 100 persen merupakan mata pelajaran agama. Padahal
memperkenalkan anak pada ajaran agama adalah bekal dan fondasi moral yang kokoh
sebab secara teori di usia dini anak memiliki memori yang begitu kuat dan tajam sehingga
apapun yang dilihat, didengar, bahkan diajarkan akan selalu membekas dan
menjadi konsep diri saat dia dewasa nanti. Oleh sebab itu tujuan guru tua dalam
mengembangkan Pendidikan islam alkhairaat
melalui MDA alkhairaat yang berkonsentrasi pada Pendidikan agama anak
sebenarnya bertujuan membangun pola piker moral keagamaan pada anak.
Setelah merenungi curahan hati sahabat saya
ALWIA ALATAS bahwa prinsip utama hidupnya
mengabdikan diri untuk alkhairat berapapun gaji yang dia dapatkan tidak
menghambat semangatnya untuk mengajar
sebab tujuaanya hanya untuk mencari keberkahan hidup Disinilah letak kebanggaan dan kekaguman saya
terhadapnya sosok ustadza yg begitu ikhlas. Hari-harinya selalu risau terhadap
urusan Pendidikan keagamaan anak2 di kota ternate, ( topik utama yg dibahas setiap kali ketemu ) dan dari dia saya
mendapat sedikit pencerahan bahwa problem utama
sepinya Pendidikan di MDA alkhairaat adalah hilangnya kesadaran pada
diri orang tua terhadap Pendidikan agama, terjadinya pergeseran nilai Pendidikan
di tengah kehidupan modern, orang tua masa kini cenderung melihat dari sisi
fisik atau lahiriah dalam orientasi
mencari ilmu, orang tua masa kini sudah terkontaminasi terhadap pola pikir
hedonis yang cenderung mengukur pada sisi materi (seorang anak dianggap sukses jika
punya jabatan penting, sukses punya duit banyak, sukses punya popularitas bak
selebriti, model, dll ) sehingga mereka
melupakan kualitas dari keberkahan ilmu yang diburu malah formalitas dan
identitas bukan lagi kualitas keihklasan seorang guru padahal ada hubungan yang
begitu kuat antara keikhlasan guru dalam mendidik dan keberkahan pada murid2nya ‘’ murid ilmunya berkualitas serta berkah karna
guru yang ikhlas. Jangan lupa alkhairaat adalah bagian dari jiwa HABIB IDRUS
BIN SALIM ALJUFRI yang diwariskan melalui
guru-gurunya yang tulus dan ikhlas. Bagi saya guru-guru alkhairaat adalah sebenar-benarnya
pahlawan tanpa tanda jasa dan keberkahan hanya dapat diperoleh lewat
tangan-tangan pahlawan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar